tabe..

tabe Mori..!. selamat Datang....! wellcome....!!! Lejong tite bao Ko?

Sabtu, 05 Desember 2009

PENERAPAN METODE DISKUSI DALAM PEMBELAJARAN

Diskusi sebagai metode pembelajaran adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251). Manakala salah satu diantara siswa berbicara, maka siswa-siswa lain yang menjadi bagian dari kelompoknya aktif mendengarkan. Siapa yang berbicara terlebih dahulu dan begitu pula yang menanggapi, tidak harus diatur terlebih dahulu. Dalam berdiskusi, seringkali siswa saling menanggapi jawaban temannya atau berkomentar terhadap jawaban yang diajukan siswa lain. Demikian pula mereka kadang-kadang mengundang anggota kelompok lain untuk bicara, sebagai nara sumber. Dalam penentuan pimpinan diskusi, anggota kelompok dapat menetapkan pemimpin diskusi mereka sendiri. Sehingga melalui metode diskusi, keaktifan siswa sangat tinggi.
Mc.Keachie dan Kulik (Gage dan Berliner, 1984: 487), menyebutkan bahwa dibanding dengan metode ceramah, dalam hal retensi, proses berfikir tingkat tinggi, pengembangan sikap dan pemertahanan motivasi, lebih baik dengan metode diskusi. Hal ini disebabkan metode diskusi memberikan kesempatan anak untuk lebih aktif dan memungkinkan adanya umpan balik
yang bersifat langsung. Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
Hasil-hasil penelitian tentang penggunaan metode diskusi kelompok oleh Lorge, Fox, Davitz, dan Brenner (Davies, 1984:237--239) dapat disimpulkan dalam rangkuman berikut.
a. Mengenai soal-soal yang berisiko, keputusan kelompok lebih radikal
dari pada keputusan perorangan.
b. Kalau ada pelbagi pendapat tentang sebuah soal yang masih baru, maka
pemecahan kelompok lebih tepat daripada pemecahan perorangan;
tetapi tidak selalu demikian kalau soalnya biasa-biasa saja.
c. Kalau bahan persoalan bukan materi baru, dan anggota-anggota
kelompok mempunyai keterampilan dalam memecahkan soal-soal sejenis,
pemecahan kelompok lebih baik dari pemecahan oleh anggota masing-
masing, tetapi kadang-kadang pemcahan anggota yang paling cerdas
lebih baik lagi.
d. Kebaikan utama diskusi kelompok bukanlah pengajuan banyak pendekatan,
melainkan penolakan terhadap pendekatan yang tidak masuk akal.
(Konklusi ini tidak berlaku untuk "brain storming").
e. Yang memperoleh keuntungan dari diskusi kelompok, ialah siswa-siswa
yang lemah dalam pemecahan soal.
f. Superioritas kelompok merupakan fungsi dari kualitas tiap anggota
kelompok. Sebuah kelompok dapat diharapkan memecahkan sebuah soal,
kalau sekurang-kurangnya satu anggota dapat memecahkan soal itu secara
individual, sekalipun ia memerlukan lebih banyak waktu.
g. Dalam hal waktu, metode kelompok biasanya kurang efisien. Kalau
anggota-anggota saling percaya dan bekerjasama dengan baik, maka
kelompok dapat bekerja lebih cepat daripada kerja perorangan.
h. Kehadiran orang luar mempengaruhi prestasi anggota-anggota
kelompok. Kalau kelompok itu bekerjasama secara harmonis, dan orang
luar bergabung dengan kelompok, hal itu mempunyai pengaruh positif;
kalau kerja sama itu tidak harmonis, maka kehadiran itu merusak,
jika dia hanya bertindak sebagai pendengar saja.
i. Dengan metode diskusi perubahan sikap dapat dicapai dengan lebih
baik daripada kritik langsung untuk mengubah sikap yang diharapkan.
Metode diskusi juga paling baik untuk memperkenalkan inovasi-inovasi
atau perubahan.
j. Kalau dipakai struktur pembahasan yang cocok dengan tugas, dan
cukup waktu untuk meninjau persoalan dari segala segi, serta jika
anggota-anggota tidak saling mengevaluasi, maka diskusi kelompok
terbukti lebih kreatif daripada belajar perorangan. (Kondisi-kondisi ini terdapat pada "brain storming")
Bertolak dari hasil-hasil penelitian tersebut di atas menyokong asumsi bahwa keunggulan metode diskusi terletak pada efektivitasnya untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran tingkat tinggi dan tujuan pembelajaran ranah afektif (Davies, 1984: 239). Karena itu, ada tiga
macam tujuan pembelajaran yang cocok melalui penggunaan metode diskusi:(1) penguasaan bahan pelajaran, (2) pembentukkan dan modifikasi sikap, serta (3) pemecahan masalah (Gall dan Gall, dalam Depdikbud, 1983:28). Pembentukkan dan modifikasi sikap merupakan tujuan diskusi yang berorientasi pada isu yang sedang berkembang. Diskusi yang
bertujuan membentuk atau memodifikasi sikap ini, dimulai dengan guru mengajukan permasalahan atau sejumlah peristiwa yang menggambarkan isu yang ada dalam masyarakat (seperti: kolusi dalam suatu lembaga, pelecehan seksual, gerakan disiplin nasional, penggusuran, dan lain sebagainya). Guru atau pimpinan kelompok selanjutnya meminta pandangan dari anggota kelompok untuk menemukan alternatif-alternatif pemecahan masalah isu tersebut. Komentar-komentar terhadap masalah atau jawaban masalah dapat diberikan anggota kelompok maupun pimpinan kelompok. Selama diskusi berlangsung, pemimpin diskusi mencoba memperoleh penajaman dan klarifikasi yang lebih baik tentang isu tersebut dengan memperkenalkan contoh-contoh yang berbeda, dan menggerakkan para anggota diskusi
mengajukan pernyataan-pernyataannya.
Pemecahan Masalah sebagai Tujuan Diskusi
Pemecahan masalah merupakan tujuan utama dari diskusi (Maier,dalam Depdikbud, 1983:29). Masalah-masalah yang tepat untuk pembelajaran dengan metode diskusi adalah masalah yang menghasilkan banyak alternatif pemecahan. Dan juga masalah yang mengandung banyak variabel. Banyaknya alternatif dan atau variabel tersebut dapat memancing
anak untuk berfikir. Oleh karena itu, masalah untuk diskusi yang pemecahannya tidak menuntut anak untuk berfikir, misalnya hanya menuntut anak untuk menghafal, maka masalah tersebut tidak cocok untuk didiskusikan. Menurut Maiyer (Depdikbud,1983:29) dalam diskusi kelompok 127kecil, dapat meningkatkan siswa untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah. Untuk itu, bilamana guru menginginkan keterlibatan anak secara maksimal dalam diskusi, maka jumlah anggota kelompok diskusi perlu diperhatikan guru. Jumlah anggota kelompok diskusi yang mampu memaksimalkan partisipasi anggota adalah antara 3--7 anggota. Dari hasil pengamatan, kelompok diskusi yang jumlah anggotanya antara 3--7 itu saja, anggota yang diduga kurang berpartisipasi penuh berkisar 1--2 orang. Dalam
diskusi dengan jumlah anggota yang relatif kecil memungkinkan setiap anak memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi. Masalah atau isu yang dijadikan topik diskusi hendaknya yang relevan dengan minat anak. Masalah diskusi yang cocok dengan minat anak dapat mendorong keterlibatan mental dan keterlibatan emosional siswa secara optimal. Melalui penggunaan metode diskusi, siswa juga mendapat kesempatan untuk latihan keterampilan berkomunikasi dan keterampilan untuk mengembangkan strategi berfikir dalam memecahkan masalah. Namun demikian pembelajaran dengan metode diskusi semacam ini keberhasilannya sangat bergantung pada anggota kelompok itu sendiri dalam memanfaatkan
kesempatan untuk berpatisipasi dalam pembelajaran. Untuk meningkatkan proses diskusi, peranan pemimpin diskusi sangat menentukan. Pemimpin diskusi bertugas untuk mengklarifikasi topik yang tidak jelas. Jika diskusi tidak berjalan, pemimpin diskusi berkewajiban mengambil inisiatif dengan melontarkan ide-ide yang dapat memancing pendapat peserta diskusi. Demikian pula bila terjadi ketegangan dalam proses diskusi, tugas pemimpin diskusi adalah meredakan ketegangan. Tidak jarang pendapat-pendapat dalam diskusi menyimpang dari topik utama, karena itu pemimpin diskusi bertugas untuk mengembalikan pembicaraan kepada topik utama diskusi. Pemilikan pengetahuan secara umum tentang masalah yang didiskusikan adalah prasyarat agar setiap peserta mampu mengemukakan pendapat. Diskusi tidak akan berhasil manakala peserta diskusi belum memiliki pengetahuan yang menjadi masalah yang didiskusikan. Dalam diskusi formal, untuk membekali pengetahuan peserta, disajikan terlebih dahulu makalah yang disusun oleh salah satu peserta diskusi.
Tujuan penyajian makalah adalah untuk membuka wawasan dan pikiran peserta agar mampu memberikan pendapatnya.
Beberapa Jenis Diskusi

a. Diskusi Kelompok Besar (Whole Group Discussion. Jenis diskusi kelompok
besar dilakukan dengan memandang kelas sebagai satu kelompok. Dalam
diskusi ini, guru sekaligus sebagai pemimpin diskusi. Namun begitu,
siswa yang dipandang cakap, dapat saja ditugasi guru sebagai pemimpin
diskusi. Dalam diskusi kelompok besar, sebagai pemimpin diskusi, guru
berperan dalam memprakarsai terjadinya diskusi. Untuk itu, guru dapat
mengajukan permasalahan-permasalahan serta mengklarifikasinya
sehingga mendorong anak untuk mengajukan pendapat. Dalam diskusi
kelompok besar, tidak semua siswa menaruh perhatian yang sama,
karena itu tugas guru sebagai pemimpin diskusi untuk membangkitkan
perhatian anak terhadap masalah yang sedang didiskusikan. Di samping
itu, distribusi siswa yang ingin berpendapat perlu diperhatikan. Dalam
diskusi kelompok besar, pembicaraan sering didominasi oleh anak-anak
tertentu. Akibatnya tidak semua anak berkesempatan untuk
berpendapat. Untuk menghindari keadaan itu, pemimpin diskusi perlu
mengatur distribusi pembicaraan. Tugas terberat bagi pemimpin diskusi
adalah menumbuhkan keberanian peserta untuk mengemukakan
pendapatnya. Dalam praktek, tidak sedikit anak-anak yang kurang
berani berpendapat dalam berdiskusi. Terlebih bagi anak yang kurang
menguasai permasalahan yang menjadi bahan diskusi.
b. Diskusi Kelompok Kecil (Buzz Group Discussion) Kelas dibagi menjadi
beberapa kelompok kecil terdiri atas 4--5 orang. Tempat berdiskusi
diatur agar siswa dapat berhadapan muka dan bertukar pikiran dengan
mudah. Diskusi diadakan dipertengahan pelajaran atau diakhir
pelajaran dengan maksud menajamkan pemahaman kerangka pelajaran,
memperjelas penguasaan bahan pelajaran atau menjawab pertanyaan-
pertanyaan. Hasil belajar yang diharapkan ialah agar segenap individu
membandingkan persepsinya yang mungkin berbeda-beda tentang
bahan pelajaran, membandingkan interpretasi dan informasi yang
diperoleh masing-masing individu yang dapat saling memperbaiki
pengertian, persepsi, informasi, interpretasi, sehingga dapat dihindarkan
kekeliruan-kekeliruan.
Diskusi Panel Fungsi utama diskusi panel adalah untuk mempertahankan
keuntungan diskusi kelompok dengan situasi peserta besar, dimana
ukuran kelompok tidak memungkinkan partisipasi kelompok secara
mutlak. Dalam artian panel memberikan pada kelompok besar keuntungan
partisipasi yang dilakukan orang lain dalam situasi diskusi yang
dibawakan oleh beberapa peserta yang terplih. Peserta yang terpilih
yang melaksanakan panel mewakili beberapa sudut pandangan yang
dipertimbangkan dalam memecahkan masalah. Mereka memiliki latar
belakang pengetahuan yang memenuhi syarat untuk berperan dalam
diskusi tersebut. Forum panel secara fisik dapat dihadiri audience
secara lansung atau tidak langsung (melalui TV, radio, dan sebagainya).
d. Diskusi Kelompok. Suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok
kecil terdiri atas 3--6 orang. Masing-masing kelompok kecil melaksanakan
diskusi dengan masalah tertentu. Guru menjelaskan garis besar problem
kepada kelas, ia menggambarkan aspek- aspek masalah kemudian tiap-
tiap kelompok (syndicate) diberi topik masalah yang sama atau berbeda-
beda selanjutnya masing-masing kelompok bertugas untuk menemukan
kesepakatan jawaban penyelesaiannya. Untuk memudahkan diskusi anak,
guru dapat menyediakan reference atau sumber-sumber informasi yang
relevan. Setiap sindikat bersidang sendiri-sendiri atau membaca
bahan, berdiskusi dan menysusun kesimpulan sindikat. Tiap-tiap
kelompok mempresentasikan kesimpulan hasil diskusinya dalam sidang
pleno untuk didiskusikan secara klasikal.
e. Brain Storming Group. Kelompok menyumbangkan ide-ide baru tanpa
dinilai segera. Setiap anggota kelompok mengeluarkan pendapatnya.
Hasil belajar yang diharapkan ialah agar kelompok belajar menghargai
pendapat orang lain, menumbuhkan ide-ide yang yang ditemukannya
dianggap benar.
f. Symposium. Beberapa orang membahas tentang aspek dari suatu subjek
tertentu dan membacakan di muka peserta simposium secara singkat
(5--20 menit). Kemudian dikuti dengan sanggahan dan pertanyaan dari
para penyanggah dan juga dari pendengar. Bahasan dan sanggahan itu
selanjutnya dirumuskan oleh panitia perumus sebagai hasil simposium.
g. Informal Debate. Kelas dibagi menjadi dua tim yang agak sama besarnya
dan mendiskusikan subjek yang cocok untuk diperdebatkan tanpa
130memperdebatkan peraturan perdebatan. Bahan yang cocok untuk
diperdebatkan ialah yang bersifat problematis, bukan yang bersifat
faktual.
h. Colloqium. Seseorang atau beberapa orang manusia sumber menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari audiensi. Dalam kegiatan belajar mengajar
siswa/mahasiswa menginterview manusia sumber, selanjutnya
mengundang pertanyaan lain/tambahan dari siswa mahasiswa lain.
i. Fish Bowl. Beberapa orang peserta dipimpin oleh seorang ketua
mengadakan suatu diskusi untuk mengambil suatu keputusan. Tempat
duduk diatur merupakan setengah lingkaran dengan dua atau tiga kursi
kosong menghadap peserta diskusi, kelompok pendengar duduk
mengelilingi kelompok diskusi, seolah-olah melihat ikan yang berada
dalam mangkuk (fish bowl). Selama kelompok diskusi berdiskusi,
kelompok pendengar yang ingin menyumbang pikiran dapat masuk duduk
di kursi kosong. Apabila ketua diskusi mempersilahkan berbicara ia dapat
langsung berbicara, dan meninggalkan kursi setelah berbicara.

Kegunaan Metode Diskusi
Diskusi sebagai metode mengajar lebih cocok dan diperlukan
apabila kita (guru) hendak memberi kesempatan kepada siswa: untuk
mengekspresikan kemampuannya, berpikir kritis, menilai perannya dalam
diskusi, memandang masalah dari pengalaman sendiri dan pelajaran yang
diperoleh di sekolah, memotivasi, dan mengkaji lebih lanjut. Melalui diskusi
dapat dikembangkan keterampilan mengklarifikasi, mengklasifikasi,
menyusun hipotesis, menginterpretasi, menarik kesimpulan,
mengaplikasikan teori, dan mengkomunikasikan pendapat. Disamping itu,
metode diskusi dapat melatih sikap anak menghargai pendapat orang lain,
melatih keberanian untuk mengutarakan pendapat, mempertahankan
pendapat, dan memberi rasional sehubungan dengan pendapat yang
dikemukakannya.
Prinsip Umum Penggunaan Metode Diskusi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan metode
diskusi, antara lain sebagai berikut.

a. Perumusan masalah atau masalah-masalah yang didiskusikan agar
131dilakukan bersama-sama dengan siswa.
b. Menjelaskan hakikat masalah itu disertai tujuan mengapa masalah
tersebut dipilih untuk didiskusikan.
c. Pengaturan peran siswa yang meliputi pemberian tanggapan, saran,
pendapat, pertanyaan, dan jawaban yang timbul untuk memecahkan
masalah.
d. Memberitahukan tata tertib diskusi.
e. Pengarahan pembicaraan agar sesuai dengan tujuan.
f. Pemberian bimbingan siswa untuk mengambil kesimpulan.

Langkah-Langkah Pelaksanaan Diskusi Kelompok
Langkah-langkah diskusi sangat bergantung pada jenis diskusi yang
digunakan. Hal ini dikarenakan tiap-tiap jenis memiliki karakteristik masing-
masing. Seminar memiliki karakteristik yang berbeda dengan simposium,
brain storming, debat, panel, sindikat group dan lain-lain. Demikian pula
siposium dan yang lain-lain tersebut juga memiliki karakteristik yang
berbeda satu dengan yang lainnya. Akibat perbedaan karakteristik
tersebut, maka langkah dan atau prosedur pelaksanaannya berbeda satu
dengan yang lain. Meskipun demikian, secara umum untuk keperluan
pembelajaran di kelas, langkah-langkah diskusi kelas dapat dilaksanakan
dengan prosedur yang lebih sederhana. Moedjiono, dkk (1996) menyebutkan
langkah-langkah umum pelaksanaan diskusi sebagai berikut ini.

a. Merumuskan masalah secara jelas
b. Dengan pimpinan guru para siswa membentuk kelompok-kelompok
diskusi, memilih pimpinan diskusi (ketua, sekretaris, pelapor), mengatur
tempat duduk, ruangan, sarana, dan sebagainya sesuai dengan tujuan
diskusi. Tugas pimpinan diskusi antara lain: (1) mengatur dan
mengarahkan diskusi, (2) mengatur "lalu lintas" pembicaraan.
c. Melaksanakan diskusi. Setiap anggota diskusi hendaknya tahu persis apa
yang akan didiskusikan dan bagaimana cara berdiskusi. Diskusi harus
berjalan dalam suasana bebas, setiap anggota tahu bahwa mereka
mempunyai hak bicara yang sama.
d. Melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasil tersebut ditanggapi oleh
semua siswa, terutama dari kelompok lain. Guru memberi alasan atau
132penjelasan terhadap laporan tersebut.
e. Akhirnya siswa mencatat hasil diskusi, dan guru mengumpulkan laporan
hasil diskusi dari tiap kelompok.
Budiardjo, dkk, 1994:20--23 membuat langkah penggunaan metode
diskusi melalui tahap-tahap berikut ini.

1. Tahap Persiapan
a. Merumuskan tujuan pembelajaran
b. Merumuskan permasalahan dengan jelas dan ringkas.
c. Mempertimbangkan karakteristik anak dengan benar.
d. Menyiapkan kerangka diskusi yang meliputi: (1) menentukan dan
merumuskan aspek-aspek masalah,(2) menentukan alokasi waktu,(3)
menuliskan garis besar bahan diskusi,(3) menentukan format susunan
tempat,(4) menetukan aturan main jalannya diskusi.
e. Menyiapkan fasilitas diskusi, meliputi: (1) menggandakan bahan diskusi,(2)
menentukan dan mendisain tempat,(3) mempersiapkan alat-alat yang
dibutuhkan.

2. Tahap pelaksanaan
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Menyampaikan pokok-pokok yang akan didiskusikan.
c. Menjelaskan prosedur diskusi.
d. Mengatur kelompok-kelompok diskusi
e. Melaksanakan diskusi.

3. Tahap penutup
a. Memberi kesempatan kelompok untuk melaporkan hasil.
b. Memberi kesempatan kelompok untuk menanggapi.
c. Memberikan umpan balik.
d. Menyimpulkan hasil diskusi.

Peranan Guru Sebagai Pemimpin Diskusi
Untuk mempertahankan kelangsungan, kelancaran dan efektivitas
diskusi, guru sebagai pemimpin diskusi memegang peranan menentukan.
Mainuddin, Hadisusanto dan Moedjiono, 1980:8--9, menyebutkan sejumlah
133peranan yang harus dimainkan guru sebagai pemimpin diskusi, adalah berikut
ini.
a. Initiating, yakni menyarankan gagasan baru, atau cara baru dalam
melihat masalah yang sedang didiskusikan.
b. Seeking information, yakni meminta fakta yang relavan atau informasi
yang otoritarif tentang topik diskusi.
c. Giving information, yakni fakta yang relavan atau menghubungkan
pokok diskusi dengan pengalaman pribadi peserta.
d. Giving opinion, yakni memberi pendapat tentang pokok yang sedang
dipertimbangkan kelompok, bisa dalam bentuk menantang konsesus atau
sikap "nrimo" kelompok.
e. Clarifying, yakni merumuskan kembali pernyataan sesorang;
memperjelas pernyataan sesorang anggota.
f. Elaborating, yakni mengembangkan pernyataan seseorang atau memberi
contoh atau penerapan.
g. Controlling, yakni menyakinkan bahwa giliran bicara merata;
menyakinkan bahwa anggota yang perlu bicara, memperoleh giliran
bicara.
h. Encouraging, yakni bersikap resetif dan responsitif terhadap
pernyataan serta buah pikiran anggota.
i. Setting Standards, yakni memberi atau meminta kelompok menetapkan,
kriteria untuk menilai urunan anggota.
j. Harmonizing, yakni menurunkan kadar ketegangan yang terjadi dalam
diskusi.
k. Relieving tension, yakni melakukan penyembuhan setelah terjadinya
tegangan.
l. Coordinating, yakni menyimpulkan gagasan pokok yang timbul dalam
diskusi, membantu kelompok mengembangkan gagasan.
m. Orientating, yakni menyampaikan posisi yang telah dicapai kelompok
dalam diskusi dan mengarahkan perjalanan diskusi selanjutnya.
n. Testing, yakni menilai pendapat dan meluruskan pendapat kearah yang
seharusnya dicapai.
o. Consensus Testing, menialai tingkat kesepakatan yang telah dicapai
dan menghindarkan perbedaan pandangan.
p. Summarizing, yakni merangkum kesepakatan yang telah dicapai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

b